
Wilayah kerajaan Anabanua masa itu adalah sama dengan wilayah kecamatan Maniangpajo sekarang (tidak masuk kampung Macanang). Kalau kita melihat sejarah kebelakang, mestinya pemberian nama untuk wilayah kecamatan ini adalah Kecamatan Anabanua. Ini merupakan kesalahan kebijakan tokoh pemerintahan kita dulu yang tidak mencermati sejarah anabanua.
Dari kampung-kampung ini (kecuali Macanang) sekarang telah digabungkan dan atau dimekarkan menjadi kelurahan dan desa yang tergabung dalam wilayah kecamatan Maniangpajo.
Peta Kabupaten Wajo yang di arsir warnah pink (merah muda) adalah kecamatan Maniangpajo yang disamping kanan atas warna abu-abu adalah Kecamatan Gilireng, Sebelum pemecahan, kedua kecamatan ini menjadi satu dengan nama kecamatan Maniangpajo.
Pemukiman awal
Dalam tahun 1737 M dalam lingkungan kerajaan Sangalla Cemma, Tana Toraja, raja Sangalla yang ke ??, saat itu mempunyai beberapa orang putera-puteri. Salah seorang puteri raja tersebut bersama suaminya dan kerabatnya meninggalkan lingkungan kerajaan Sangalla.
Setelah sekian lama meninggalkan lingkungan istana Sangalla dan dalam perjalanannya kearah daratan bagian selatan sesuai yang direncanakan, maka tibalah pada suatu tempat yang mereka anggap layak untuk didiami atau dijadikan tempat perkampungan. Tempat inilah yang oleh penduduk yang sudah ada sebelumnya ditempat itu dinamai “ Sitangnge”,( dalam arti tempat tersebut diberi nama Setangnge, karena dianggap keramat (masetang) oleh penduduk yang bermukim disitu). Letaknya disebelah timur Abbisang berek’E, dalam lingkungan atau kampung Alausalo sekarang.
Penduduk yang sudah berdiam disekitar tempat tersebut menyebutnya tempat keramat (masetang), sehingga heran melihat kedatangan rombongan yang memilih tempat tersebut sebagai tempat tinggal.. Suami isteri ini terutama sang putri sangat sopan santun dan cepat beradaptasi dengan penduduk asli. Sehingga lama-kelamaan, kemudian diangkat oleh mereka sebagai dituakan yang akhirnya dinobatkan menjadi raja/ arung di tempat itu.
Bermula dari perkampungan Setangnge tersebut yang dari hari ke hari semakin tumbuh dan berkembang, yang akhirnya dengan pertimbangan geografis yang memudahkan mobilisasi penduduk ke berbagai arah, maka perkampungan berpindah lokasi ke MannagaE (sekitar satu kilometer kearah barat dari Setangnge).
Tahun berganti tahun kemakmuran dan jumlah penduduk semakin meningkat juga dengan adanya penduduk dari kampung lain pindah bermukim di MannagaE. Dengan pertimbangan tersebut oleh Arung waktu itu sesuai kesepakatan semua pemuka masyarakat, maka berpindahlah penduduk semua ke tempat yang lebih strategis menurut pertibangan raja/ arung waktu itu.
Tempat terakhir inilah yang oleh raja ke tiga bernama We Eccu diberi nama “Anabanua”.
Arti Kata ” Anabanua ”
Konon karena kecintaan raja/arung terhadap bangsanya/ anaknya (masyarakatnya) dan kecintaan kepada kampungnya/ tanah airnya/ kerajaannya (wanua), maka diberilah nama tempat yang baru itu dengan nama “ Anabanua” ( asal kata Anak dan Wanua, dirangkaikan biasa ditulis Anak banua atau Ana’banua). Jadi nama ini muncul kira-kira setelah tahun 1780 M.
Istilah pada jaman tersebut bila dibandingkan jaman sekarang maka kata “Anak dalam arti Bangsa dan Banua biasa juga disebut Wanua berarti Negara (daerah kekuasaan)”. Sehingga dapat diartikan : Cinta kepada bangsa dan negara /tanah air.
Raja Pertama (I) dan Kedua (II).
Dalam masa perkembangan perkampungan mulai dari kampung yaitu Setangnge dan masa itu sudah diperintah oleh dua arung/ raja yang kesemuanya perempuan. Namun nama mereka tidak sempat diketahui secara rinci oleh nara sumber.
Raja Ketiga (III):
Raja Anabanua yang ketiga sebagaimana yang disebutkan di atas adalah seorang wanita yang bernama We Iccu Petta Ubeng, istananya di Abbisang bereE – Alausalo,. Raja ketiga ini melahirkan 3 (tiga) orang anak yaitu satu putra dan dua putri. Yang sulung putra satu-satunya dinamai La Sampewali, yang tengah dinamai We Soji, dan yang bungsu dinamai We Sogi.
We Soji inilah yang melahirkan We Randeng, Istana raja (Saoraja) setelah berpindah ke Anabanua letak bangunannya di dalam kompleks pasar lama sekarang atau dekat sumur bor milik PAM Anabanua.
Raja Keempat (IV):
Raja keempat bernama We Soji (putri pertama dari We Iccu Petta Ubeng). Raja atau arung ini kawin dengan La Sengngenngpali dari Kerajaan Batu (Bulucenrana) anak saudara ayahnya, dan melahirkan 2 (dua) orang anak perempuan yaitu We Bulimang dan We Randeng. Dalam pemerintahannya sangat dipatuhi oleh rakyatnya. Ia banyak berkunjung ketengah-tengah dan menerima aspirasi masyarakat. Namun karena sakit-sakitan akhirnya meninggal dunia pada tahun 1788 M. Kedua putrinya yang masih di bawah umur diasuh oleh saudaranya (We Sogi) dan suaminya kawin lagi di kampungnya.
Raja Kelima (V):
Raja kelima bernama We Sogi (putri kedua dari We Iccu Petta Ubeng),
Raja/Arung ini kawin dengan Arung La Temmangingngi, keturunan Arung Sakkoli. Dalam perkawinannya tersebut melahirkan beberapa orang anak. Beliau sering kali meninggalkan kerajaan dan mengikuti suaminya, maka rakyat gelisah dan kurang mematuhinya.
Arung ini hanya memerintah selama lima tahun dan meninggal di Sakkoli. Kemudian setelah beberapa lama terjadi vakum pemerintahan karena raja meninggal, maka masyarakat dalam tahun 1795 M mendatangi We Bulimang anak pertama We Soji untuk dinobatkan sebagai raja, kendatipun waktu itu umurnya masih mudah belia.
Raja Keenam (VI):
Raja keenam bernama We Bulimang (putri pertama We Soji) bersuamikan dengan Ambo Lame Daeng Mattola, putra Ambo Wadeng ( Petta Sulewatang Ri Bila). Raja ini hanya melahirkan satu putra tunggal bernama Ambo Ogo Daeng Sibali.
Raja ini dengan wibawa yang tinggi berusaha menghilangkan keresahan masyarakatnya dengan melanjutkan rencana pendahulunya yaitu memindahkan pusat pemerintahan/ istananya dari Setangnge ke Mannagae; meningkatkan pencetakan sawah; menganjurkan berkebun secara menetap di suatu kawasan; memperbaiki hubungan kekeluargaan diantara seluruh masyarakat.
Dalam kesibukan mengatur pemerintahannya, ia sering pula bepergian dengan keluarganya menemui leluhurnya di Bila Riase , Cemma dan Sangalla. Sedang waktu itu kerusuhan dan penculikan anak-anak khususnya anak-anak wanita sering terjadi. Akhirnya beliau sakit-sakitan dan meninggal dunia. Sebelum meninggal beliau berpesan kepada penggantinya agar pemerintahan dan pembangunan dilestarikan. Pemerintahan kemudian dilanjutkan oleh adiknya yang bernama We Randeng Petta Macoae di akhir tahun 1803 M.
Raja Ketujuh (VII):
Raja ketujuh bernama We Randeng Petta MacoaE (putri kedua We Soji), Ia kawin dengan Arung Daeng Tellesang dari Macanang, dan melahirkan seorang putri yang bernama We Makkarennu (Indo Makka) Petta Maloloe , artinya masih mudah usianya. We Randeng, yang digelar oleh penduduk Petta Macoae sebab dialah yang tertua kedudukannya dalam pemerintahan Anabanua.
Dalam kedudukannya sebagai Arung Anabanua We Randeng selalu mengusahakan kemakmuran dan ketinggian martabat rakyatnya. Disaat pemerintahannya masuklah agama islam yang disiarkan oleh Datok Ri Bandang utusan dari Petta MangkauE ri Bone. Selain itu di masa ini terjadi kekacauan dan pertempuran disekitar wilayah kerajaan seperti Gilireng dan Tempe.
Dari peperangan ini dikenal jago perang dimasa itu seperti Koronel La Poci di Gilireng, Jenderal Andi Jalantek di Tempe, dan Kapitan Massalanra di AwataE Lowa. Disamping itu Belanda sudah mulai menyebarkan pengaruhnya di kawasan ini. Karena usia sudah lanjut, maka Arung We Randeng menyerahkan kekuasaannya kepada anak tunggalnya setelah 46 tahun memerintah. We Makkarennu adalah anak tunggal dari We Randeng yang sudah bersuami pada masa kecilnya dengan Sappewali arung Macanang, tetapi tidak rukun. Setelah Ia berumur kira-kira sepuluh tahun lebih ia mendapat lagi pinangan dari daerah lain yaitu Sidenreng.
Istana raja (Saoraja) letaknya sekitar sumur bor milik PAM Anabanua di kompleks pasar lama Anabanua.
Catatan: Penggunaan “I atau We” didepan nama sama artinya yang menunjukkan bahwa dia adalah perempuan. Sedang untuk kaum laki-laki menggunakan “La”.
Raja Kedelapan (VIII):
Raja kedelapan bernama We Makkarennu Petta MaloloE (putri dari We Randeng).
Raja kedelapan ini We Makkarennu kawin dengan La Sappewali dari Macanang (anak sepupu dari ayahnya) tidak mendapat keturunan (anak).
Pemerintahannya sangat sederhana pada hal masa itu kerusuhan dan penculikan merajalela, dan suaminya yang seharusnya jadi pendamping, malah menjauh dan tinggal di kampungnya Macanang. Sehingga raja hanya ditemani oleh atanna (pesuruhnya). Maka semua rencana pembangunan terbengkalai. Akhirnya setelah dua tahun memerintah, ia meninggalkan istananya/ kerajaannya tanpa kesan.
Pada saat ini muncul seorang yang mengaku keturunan Arung We Eccu yang bernama La Maddanaca dari Callaccu yang akan mengambil alih kekuasaan yang ditinggalkan oleh We Makkarennu. Namun masyarakat dan khususnya tokoh pemangku adat ( Ambo Ogo Daeng Sibali) tidak merelakan hal ini terjadi dan dia kurang dikenal oleh masyarakat apalagi yang dikehendaki menjadi raja sesuai kesepakatan turun temurun ialah seorang perempuan keturunan arung Anakbanua sendiri.
Pada masa ini pula terjadi wabah penyakit menular sehingga banyak penduduk yang meninggal dunia, masyarakat panik dan banyak yang meninggalkan kampung halamannya dan merantau ke Kutai ( Kalimantan), Jambi bahkan sampai ke Singapura dan Johor (Malaysia).
Ketika Raja Anabanua ke VIII (We Makkarennu Petta MaloloE) meninggalkan kekuasaannya, karena tidak mempunyai anak, maka pewaris kerajaan selanjutnya hanyalah Ambo Ogo Daeng Sibali sendirian. Namun karena sesuai kebiasaan yang diangkat raja adalah dari perempuan maka diwariskan pada anaknya yang bernama Indo Makketti.
Proses pengangkatan Indo Makketti menjadi raja/ arung Anakbanua didahului dengan perundingan antara wakil masyarakat dan matoa adat (tokoh adat) yang dipimpin oleh La Sessu Daeng Manrapi dari Mannagae bertemu dengan Ambo Ogo Daeng Sibali atau Puang Betti ( putra tunggal We Bulimang, Raja ke VI) di rumahnya di ujung barat Kampung Bolamallimpong. Beliau berkata “Amasei atatta puang, tasalipuri, tadongiriwi, riangelliwi, ri puangku, naidi tona puang jujungngi bungana Anabanua.” Yang artinya maafkanlah kami, lindungi kami, Puangku (tuanku) jugalah yang menjadi raja di Anabanua.
Kemudian apa jawaban Puang Betti yaitu “Uwingerini akkatamu seajing, naiya jujungngenna bungae ri Anabanua umanaha, naekiya makkunraimi massosoreng jujungngi. Jaji laoko seajing ri Mannagae ri puangmu Indo Makketti naiya jujungngi bungana Anabanua. Yang artinya “ telah kuketahui maksudmu saudara, memang saya adalah pewaris tunggal kerajaan, tetapi yang menjadi raja adalah selalu perempuan, maka sebaiknya kalian datang menemui putriku I Makketti di Mannagae.
Maka akhirnya dinobatkanlah Indo Makketti menjadi Raja Anabanua oleh Ayahnya sendiri yaitu Ambo Ogo Daeng Sibali.
Raja Kesembilan (IX):
Raja kesembilan bernama Indo Makketti. Beliau adalah cucu dari We Bulimang diangkat menjadi raja karena We Makkarennu tidak punya anak dan untuk mempertahankan konstitusi atau aturan bahwa raja harus dari kaum perempuan. Awal pemerintahan arung ini sangat lemah, mungkin karena usianya masih muda (gadis) umur 13 tahun yaitu lahir di tahun 1844 M.
Baru enam bulan setelah memangku Raja Anabanua, datanglah pinangan dari Petta Lolo La Barata ( lihat silsilah beliau di halaman lain). Dari pinangan ini diterima oleh Puang Betti dan dengan dukungan masyarakat maka pada tahun 1858 M dilaksanakan pesta pernikahannya dengan meriah di Mannagae.
Dalam pemerintahan Indo Makketti (Raja IX) yang dibantu / didampingi suaminya bernama Petta Barata (Petta Lolo).
Beberapa kegiatan yang menonjol yaitu pembangunan laju pesat diantaranya pencetakan sawah, mendirikan rumah ibadah(Mesjid), pembuatan jalanan, pengangkatan kepala-kepala kampung dan matoa tani, peningkatan keamanan.dan memindahkan istana kerajaan (Saoraja) dari Mannagae ke Anabanua ( dalam wilayah pasar lama Anabanua), orang dulu sering mengatakan appasarengnge artinya kawasan pasar atau tempat keramaian.
Kebiasaan lain yang digalakkan adalah pada waktu-waktu tertentu dilaksanakan pesta kesenian dan olah raga pencat silat, mattojang dan main sepak raga. Pada waktu tersebut juga mengibarkan bendera kerajaan. Kegiatan kesenian misalnya bermain kecapi, biola, lomba padendang, massure (pembacaan puisi) dan lain-lain.
Pada masa ini pula penjajah Belanda telah giat menanamkan pengaruhnya dalam pemerintahan dan diantaranya membangun sarana jalan dan jembatan, sarana perkantoran, gedung sekolah dan pasar dan mengatur hukum dibidang pertanahan dan pertanian.
Dalam pemerintahannay hal lain yang tidak luput dari perhatiannya adalah mengangkat 2 (dua) orang Matoa tani yaitu disebelah utara Anabanua bernama La Bune kemudian digantikan oleh La Jaga dan seterusnya secara turun temurun. Kemudian di sebelah selatan Anabanua diangkat La Pabolam, yang kemudian digantikan oleh Daeng Sutte.
Lama kelamaan Matoa- matoa ini dilebur menjadi Kepala Adat atau Kepala kampung yang dijabat oleh keluarga raja sendiri yang dilantik secara serentak yaitu masing-masing : Ambo Paerah Daeng Malluru (saudara raja) di kampung Buloe, Ambo Dimeng Daeng Sitakka (saudara raja) di kampung Lakadaung, Ambo Melo (sepupu raja) di kampung Alausalo, Ambo Mannungke(atau biasa disebut Puang Mannu, saudara raja) di kampung Lompo Palia, La Makkarumpa paman raja) di kampung Jongkang, dan La Tarawe ( sepupu raja) di kampung Salo Dua, La Wero (sepupu raja) di kampung Callaccu, dan kepala kampung lainnya ( Bolamallimpong, Langkauttu dan Lawatanae) belum ditunjuk pada saat itu. ,
Dalam perkawinannya dengan Petta Barata, maka lahirlah 8 (delapan) orang anak, yaitu. 5 orang putri dan 3orang putra adalah : Andi Ponte Petta Daengna, Andi Takkau Petta Coa, Andi Cammeng, H.A. Sabbang Petta Indona, Andi Nyau, Andi Paccoba Petta Pangulu, Andi Kadu Petta Ambona, dan Andi Pakkebbi Petta lolo. Kemudian Indo Makketti wafat pada tahun 1904 di Anabanua.
Sebelum wafat, pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada anak pertama bernama Andi Ponte Petta Daengna sebagai arung Anabanua ke X pada tahun 1902.
Raja Kesepuluh (X):
Raja kesepuluh bernama Andi Ponte Petta Daengna, putri Indo Makketti, bersuamikan Andi Pannyiwi Petta Buranewe (suami kedua). Suami pertama bernama Datu Tompi Petta Ri Botto pada saat itu beliau belum memangku sebagai Arung Anabanua tempat tinggalnya di Lamanu-manu Callaccu. Suaminya yang pertama ini meninggal pada usia muda.
Andi Ponte Petta Daengna memerintah dari tahun 1902 – 1907 dalam pemerintahannya didampingi oleh adiknya bernama Andi Coba Petta Pangulu atau Petta Khalifah.
Dalam masa pemerintahan Andi Ponte Petta Daengna (Raja ke X) sangatlah meresahkan masyarakat karena dia raja di Anabanua sedang suaminya yang kedua bernama Andi Pannyiwi Petta Burane memangku raja/arung di Otting ( Kab. Sidrap). Dan akhirnya menetap di Sidrap dan pemerintahan diserahkan penuh kepada Andi Coba Petta Khalifah pada tahun 1907.
Raja Kesebelas (XI):
petta cobasoraja oraiRaja kesebelas Andi Coba Petta Khalifah putra Indo Makketti (sejak beliau kerajaan Anabanua dipimpin oleh raja laki-laki) tahun 1907 – 1936. Penjajah Belanda masuk ke Anabanua tahun 1905 dan mulailah atas kehendak kaum penjajah Belanda istilah kerajaan diganti dengan istilah wanua.
Dalam pemerintahannya kegiatan pembangunan maju pesat antara lain keagamaan, pembangunan bidang produksi sandang- pangan dan infrastruktur jalan, pasar, rumah guru, rumah abbicarang (bola sobat) dan sekolah serta melengkapi aparat di pedesaan seperti guru syara’, guru mengaji, matoa tani dan surau.
Diakhir pemerintahannya, pergolakan masyarakat menentang penjajah Belanda sudah mulai dan di mana-mana tokoh masyarakat antara lain Andi Nure, Andi Parenrengi dan Andi Tabo menyusun strategi dan bergerilya. Istana (Sao raja) beliau terletak di sebelah selatan SMP Negeri I Maniangpajo sekarang. Gambar rumah di atas setelah direnovasi tahun 2007.
Kemudian pada tahun 1937 karena perhatiannya lebih dikhususkan pada pengembangan keagamaan khususnya pengembangan Tarekat Khalwatiah Samman, karena pada saat itu masyarakat Anabanua umumnya penganut Tarekat Khalwatiah Samman. maka pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada adiknya yang bernama Andi Kadu Petta Ambona.
Raja Keduabelas (XII) :
petta kadu
Raja keduabelas bernama Andi Kadu Petta Ambona (1937-1950) dalam masa pemerintahannya ia meneruskan program pembangunan raja sebelumnya, membangun bendungan kecil di Abbisang beree dan di Salodua, serta memindahkan mesjid ke pinggir jalan besar (Mesjid At-Taqwa sekarang).
Program nya banyak mengalami kesulitan dengan masuknya penjajahan Jepang. Pada masa ini banyak penduduk Anabanua merantau ke Sumatera dan Kalimantan.
Oleh karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan maka pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada putranya bernama Andi Muhammad Basir pada tahun 1951.
Arung Anabanua ini semasa hidupnya dikaruniai putra- putri 20 (dua puluh) orang anak dari 7 (tujuh) orang isteri yaitu :
Isteri ke 1. Bernama I Manda, mempunyai anak 3 (tiga) orang yaitu : Andi Kunjung, Andi Tambo, Andi Pisah, dan Hj.Andi Tabbi.
Isteri ke 2. Bernama I Dina, mempunyai anak 1 (satu) yaitu Andi Hasanuddin.
Isteri ke 3. Bernama I Cani, mempunyai anak 1 (satu) yaitu Andi Tenri Angka.
Isteri ke 4. Bernama Andi Takko Petta Burung mempunyai anak 5 (lima) orang yaitu : Andi Alinuddin, Andi Muh. Basir, Andi Illang, Hj.Andi Besse, dan Andi Mappatunru.
Isteri ke 5 bernama I Takkalla, mempunyai anak 2 ( dua) orang yaitu Hj.Andi Kida, dan Andi Johar. Isteri ke 6 bernama I Munta mempunyai anak 4 (empat) orang yaitu : H.Andi Muh. Amin (di Manado), Hj.Andi Eni, H.A.Pammusureng (pernah menjabat camat Maniangpajo tahun 2008-2011), dan Andi Rusli.
Dan Isteri ke 7 bernama I Maccaiyya mempunyai anak 4 (empat) orang yaitu : Andi Sudarno (pernah menjabat camat Maniangpajo), Hj.Andi Marwa, Hj. Andi Safa, dan Andi Rifai.
Istana (Sao raja) yang ditempati bernama Sao raja bunga atau biasa juga disebut sao raja camming, karena banyak bunga-bunganya dan dinding pakai kaca bening, terletak di pasar lama sekarang. bangunan sudah tidak ada di tempat tersebut. Dan dipindahkan lokasinya di jalan poros palopo/ jalan Andi Alinuddin.
Raja Ketigabelas (XIII) :
Raja ketigabelas (terakhir) bernama Andi Muhammad Basir Petta Mamma mulai memerintah pada tahun 1951. Dalam masa pemerintahannya sebagai arung Lili Anabanua ( sesuai ketetapan dari Kerajaan Wajo waktu itu) yang kemudian diangkat menjadi kepala Wanua atau Distrik Anabanua mendapat tantangan dari gangguan keamanan dari DI TII Kahar Muzakkar, masa pemerintahan sebagai raja Anabanua berakhir dengan terbentuknya dan bergabungnya Wanua Anabanua dengan Wanua Gilireng menjadi Kecamatan Maniangpajo dan beliaulah menjadi camat pertama Kecamatan Maniangpajo pada tanggal 18 April 1962.
Dalam masa pemerintahannya, penggabungan kerajaan lain dalam Wajo senantiasa diberi hak otonomi dalam mengelola daerahnya. Wajo sebagai kerajaan induk tidak mencampuri adat kerajaan bawahannya. Tetapi Wajo bersedia memberi bantuan jika diperlukan. Adapun yang diminta Wajo sebagai kerajaan Induk bukanlah upeti. Akan tetapi sekedar pengakuan pada Wajo dan memilih untuk berada dalam koordinasi salah satu Limpo yang dipimpin oleh Ranreng. Juga keikutsertaan apabila Wajo terlibat perang dengan kerajaan lain.
Catatan :
Pemakaian Gelar ” Andi ”
Gelar “Andi” pertama kali digunakan oleh Raja Bone ke-30 dan ke-32 La Mappanyukki, beliau adalah Putra Raja Gowa dan Putri Raja Bone. Gelar itu disematkan didepan nama beliau pada Tahun 1930. Dan setahun kemudian secara serentak seluruh Raja-Raja yang berada di Sulawesi Selatan menggunakan Gelar tersebut didepan namanya masing-masing dan turun temurun sampai saat ini.
Demikian sekilas sejarah berdirinya kerajaan Anabanua. Perlu dicatat bahwa kerajaan Anabanua pada masa sebelum kemerdekaan tidak dibawahi Kerajaan Wajo.
@ Penghimpun bahan tulisan :
Picture 059 Bahan tulisan BDR dan Sekilas sejarah Anabanua ini bersumber dari keluarga kerajaan antara lain Petta Coba, H.Andi Abd.Rahman (Petta Baso), Petta Cammeng, Petta Indona, Andi Sitti Nurbaya (Petta Iccu) dan lain-lain, yang dihimpun oleh keluarga kita Ambo Ogo Daeng Sibali ( cucu dari Ambo Paerah Daeng Malluru, saudara kandung Raja ke 9) lahir di Lowa 2 Maret 1940 dan meninggal dunia di Kalola 22 Juni 2015. Pendidikan semasa hidupnya SRN Anabanua dan SUT (Sekolah Usaha Tani) di Palaguna Sengkang. Almarhum meninggalkan 5 orang putra-putri.
Keterangan Gambar : Raja ke XI & XII
